TATA CARA PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH "STRUKTUR ARTIKEL ILMIAH"
STRUKTUR ARTIKEL ILMIAH
Secara umum struktur artikel ilmiah hasil penelitian dan artikel ilmiah non penelitian relatif sama. Pada artikel non penelitian tidak ada bagian metode. Struktur artikel ilmiah hasil penelitian terdiri atas 10 bagian utama yaitu: (1) judul (2) baris kepemilikan; (3) abstrak; (4) kata kunci; (5) pendahuluan; (6) metode; (7) hasil dan pembahasan; (8) simpulan; dan (9) daftar pustaka. Adapun struktur artikel ilmiah non penelitian terbagi menjadi 9 bagian utama yaitu: (1) judul; (2) baris kepemilikan; (3) abstrak; (4) kata kunci; (5) pendahuluan; (6) pembahasan; (7) simpulan; dan (9) daftar pustaka. Masing-masing bagian diberikan penjelasan sebagai berikut.
1.      Judul
a.       Judul hendaknya ringkas dan informatif, dengan jumlah kata tidak lebih dari 12, sudah termasuk kata penghubung. Agar judul dapat dibuat singkat dan ringkas dalam 12 kata, hindari kata penghubung dan penyebutan obyek, tempat atau bahan penelitian yang sangat terperinci.
b.      Judul mengandung kata-kata kunci dari topik yang diteliti.
c.       Jenis huruf Times New Roman 14, dengan jarak baris satu spasi.
d.      Judul dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggeris, sesuai dengan bahasa yang dipergunakan dalam manuskrip.
e.        Hindari penggunaan singkatan, rumus dan rujukan.

2.      Baris Kepemilikan (authorship lines)
a.       Baris kepemilikan terdiri atas dua bagian, yaitu nama-nama penulis dan afiliasi kelembagaan penulis.
b.      Afiliasi kelembagaan mahasiswa mengikuti tempat dimana yang bersangkutan belajar.
c.       Nama-nama penulis hendaknya hanya orang yang benar-benar berpartisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, analisis hasil, pembahasan, dan penulisan laporan.
d.      Jabatan akademik/fungsional atau gelar kesarjanaan tidak perlu dicantumkan.
e.       Nama lembaga dicantumkan secara lengkap sampai dengan nama negara, ditulis di bawah nama penu- lis beserta alamat pos, email dan faksimili (kalau ada) untuk keperluan korespondensi.
f.        Jika penulis lebih dari satu orang dan berasal dari kelembagaan berbeda, maka semua alamat dicantum- kan dengan memberikan tanda superskrip huruf kecil mulai dari a pada belakang nama penulis secara berurutan.
g.       Nama penulis korespondensi diberi tanda bintang (*).
RANGKUMAN BUKU KARYA TULIS ILMIAH

Rangkuman
BAB IV
Sistematika Artikel Penelitian

      1.      Artikel Hasil Penelitian
Hasil-hasil yang ditulis dalam bentuk artikeln untuk kemudian diterbitkan dalam majalah ilmiah atau jurnal memiliki kelebihan-kelebihan dibandingkan denga yang ditulis bentuk laporan teknis resmi. Laporan teknis resmi cenderung tebal dan diproduksi terbatas, sehingga hanya kalangan terbatas yang membacanya. Sebaliknya, hasil penelitian yang ditulis dalam bentuk artiel,biasanya dituntut untuk berisi penting-penting saja. Singkatnya, haisl penelitian yang ditulis dalam bentuk artikel dalam jurnal dapat memberikan dampak akademik yang lebih cepat dan luas daripada laporan teknis.
1.1  Ciri Pokok
Laporan dalam bentuk artikel ilmiah dibedakan dengan laporan teknis resmi dalam tiga segi, yaitu bahan,, sistematika, dan prosedur penulisan. Ciri pokok utama adalah bahan. Artikel hasil penelitian untuk jurnal hanya berisi hal-hal atau bahan yang penting saja, seperti hasil pebelitian, pembahasan hasil, dan simpulan. Kajian pustaka lazim disjaikan untuk mengawali artikel dan sekaligus merupakan pembahasan mengenai rasional pentingnya masalah yang diteliti. Bagian awal berfungsi sebagai latar belakang penelitian.
Ciri poko kedua adalah sistematika penulisan. Artikle hasil penelitian terdiri atas bagian dan subbagian. Bagian dan subbagian dapat diberi judul atau tanpa judul. Dalam laporan penelitian teknis resmi, kajian pustaka lazimnya diletakkan pada bagian kedua (BAB II), yakni setelah bagian yang membahas masalah, pentingnya penelitian, hipotesis dan tujuan penelitian. Dalambagaian artikel hasil penelitian, kajian pustaka merupakan bagian awal artikel (tanpa judul subbagian kajian pustaka) yang berfungsi sebagai bagian penting dari latar belakang penelitian. Kajian pustaka yang sekaligus berfungsi sebagai latar belakang penelitian ditutup oleh rumusan tujuan penelitian (tanpa judul subbagian tujuan penelitian).
Ciri pokok ketiga adalah prosedur penulisan. Sesuai dengna pedoman penulisan karya ilmiah Universitas Negeri Malang (2003:43), dapat dikemukakan bahwa ada tiga kemungkinan prosedur penulisan artikel hasil penelitian. Pertama, artikel hasil penelitian ditulis sebelum laporan penelitian teknis dibuat secara lengkap dibuat. Tujuannya untuk menjaring masukan dari para pembaca. Kedua, artikel hasil peneltina untuk jurnal ditulis setelah laporan penelitian teknis resmi setelah disusun. Ketiga, artikel hasil peneltian yang diterbitkan dalam jurnal merupakan satu-satunya tulisan yang dibuat oleh peneliti. Alternatif ketiga ini lazim dilakukan oleh peneliti yang yang mendanai penelitiannya sendiri. Bagi penelitian swadana, artikel hasil penelitian dalam jurnal merupakan forum komunikasi yang palig efektif dan efisien.
SOAL KALIMAT EFEKTIF
1.      Penyakit Alzheimer alias pikun adalah salah satu segi usia tua yang paling mengerikan dan berbahaya sebab pencegahan dan cara obatnya tidak ada yang tahu.
Kesalahan: penulisan penyakit Alzheimer alias pikun merupakan paralelisme. Pada kalimat tersebut penggunaan paralelisme pada awalan kalimat tidak tepat karena penyakit Alzheimer sama dengan pikun.
Perbaikan: Penyakit Alzheimer adalah penyakit tua yang paling mengerikan dan berbahaya karena pencegahan dan cara pengobatannya tidak ada yang mengetahui.
2.      Pembangunan gedung sekolah baru pihak yayasan dibantu oleh bank yang memberi kredit.
Kesalahan: penggunaan subjek ganda (yayasan dan bank) dalam kalimat tunggal.
Perbaikan:
a.       Pihak yayasan dibantu oleh bank yang memberi kredit untuk membangun gedung sekolah baru.
b.      Pembangunan gedung sekolah baru dibantu oleh yayasan, sedangkan bank yang akan memberi kredit.
3.      Dalam pembangunan sangat berkaitan dengan stabilitas politik.
Kesalahan: pemakaian kata depan ‘dalam’ yang salah, sehingga gagasan kalimat menjadi kacau.
Perbaikan: Pembangunan sangat berkaitan dengan stabilitas politik.
4.      Kepada setiap pengendara mobil di kota Jakarta harus memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM)
Kesalahan: tidak jelasnya subjek pada kalimat tersebut, penggunaan Jakarta sudah mewakili kota Jakarta.
Perbaikan: Setiap pengendara mobil di Jakarta harus memiliki Surat Izin Mengenmudi (SIM)
5.      Saya punya rumah baru saja diperbaiki.
Kesalahan: struktur kalimat tidak benar.
Perbaikan: Rumah saya baru saja diperbaiki.
SOAL EYD

          1.      Nama penulis: Tjetjep Rohendi Rohidi. Penulisan daftar pustaka dari buku yang tepat adalah...
a.  Tjetjep Rohendi, Rohidi, 2000. Ekspresi Seni Orang Miskin. Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia.
b.      Rohidi, Tjetjep Rohendi, 2000. Ekspresi Seni Orang Miskin. Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia.
c.       Rohidi, Tjetjep Rohendi. 2000. Ekspresi Orang Miskin. Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia

          2.      Nama penulis: Sabarti Alkhadiah, Maidar G. Arsyad dan Sakura H. Ridwan. Penulisan daftar pustaka yang tepat adalah...
a.       Ridwan, Sakura H, Sabarti Alkhaidah, Maidar G. Arsyad, 1996. Menulis. Jakarta: Depdikbud.
b.      Alkhadiah, Sabarti, Maidar G. Arsyad dan Sakura H. Ridwan. 1996. Menulis. Jakarta: Depdikbud.
c.   Sabarti, Alkhadiah, Maidar G. Arsyad dan Sakura H. Ridwan. 1996. Menulis. Jakarta: Depsikbud.

          3.      Penulis: Darmiyati Zuchdi. Penulisan daftar pustaka dari makalah yang tepat adalah...
a.   Zuchdi, Darmiyati. 1997. “Pembelajaran Menulis dengan Pendekatan Proses.” Makalah disajikan dan dibahas pada Senat Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Yogyakarta tanggal 15 November 1996.
b.   Zuchdi, Darmiyati. 1997. “Pembelajaran Menulis dengan Pendekatan Proses”. Makalah disajikan dan dibahas pada Senat Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Yogyakarta tanggal 15 November 1996.
c.  Damiyati, Zuchdi. 1997. “Pembelajaran Menulis dengan Pendekatan Proses”. Makalah disajikan dan dibahas pada Senat Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Yogyakarta tanggal 15 November 1996
Makalah Kajian Etnolinguistik "Makna Leksikal dan Kultural pada Leksikon Tradisi Manten tebu Di Pabrik Gula Pangka Kabupaten Tegal "
Makna Leksikal dan Kultural pada Leksikon Tradisi Manten Tebu
Di Pabrik Gula Pangka Kabupaten Tegal
Oleh: Nur Intan Sari (2601413072)

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara dengan beragam suku yang tersebar di berbagai pulau. Hal ini yang menyebabkan beragamnya kebudayaan. Dapat dilihat dari pulau Jawa yang memiliki beragam suku, salah satunya adalah suku Jawa. Suku Jawa ini mempunyai beragam kebudayaan tersebar di Provinsi Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur.
Tegal merupakan salah satu daerah di Provinsi Jawa Tengah. Masyarakat Tegal merupakan asli suku Jawa. Hal tersebut dapat dilihat dari masyarakatnya yang menggunakan bahasa asli Tegal atau bahasa Jawa kuna asli. Tidak hanya dari penggunaan bahasa di masyarakat, namun kebudayaannya yang sama dengan kebudayaan di derah-daerah Jawa Tengah lainnya.
 Letak geografis Tegal berada di jalur pantai utara (pantura). Selain berdampingan dengan Pantai Utara, wilayah Tegal dekat dengan daerah dataran tinggi. Tegal di sebelah utara berdampingan dengan Pantai Utara, sedangkan di sebelah selatan berdampingan dengan Gunung Slamet. Keragaman geografis tersebut sangat berpengaruh pada kebudayaan masyarakatnya. Misalnya daerah Tegal yang berdampingan dengan Pantai Utara, tradisi yang terkenal adalah Sedekah Laut dan Ruwat Bumi. Berbeda dengan geografisnya, Tegal yang dekat dengan Gunung Slamet, mempunyai tradisi Manten Tebu, Sedekah Bumi dan Sedekah Wadhuk.
Pada penelitian ini, tradisi yang akan diteliti adalah tradisi Manten Tebu. Tradisi ini dikoordinasi oleh Karyawan Pabrik Gula Pangka (PG Pangka) yang dimeriahkan semua masyarakat Tegal dari berbgaia kalangan sosial, yaitu petani tebu, tokoh masyarakat, serta pejabat pemerintah.  PG Pangka ini berada di Kelurahan Pangka, Kecamatan Pangka, Kabupaten Tegal. Tradisi ini sebagai petanda bahwa tebu siap untuk digiling di Pabrik Gula pangka (PG Pangka). Tebu yang akan digiling ini berasal dari petani tebu di seluruh Tegal. Tradisi Manten Tebu ini sudah menjadi kegiatan yang rutin dilakukan pada bulan April-Mei.
Tradisi Manten Tebu ini merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan yang telah meberikan limpahan berupa hasil panen tebu yang berlimpah serta tradisi ini dilakukan sebagai bentuk harap kepada Tuhan agar dilancarakan pada proses penggilingan sehingga menghasilkan gula yang baik, memberikan kesejahteraan, dan tidak merugikan PG Pangka, petani dan masyarakat setempat.
Tujuan dan hasil dari tradisi Manten Tebu ini nyata dirasakan oleh karyawan dan masyarakat Pangka dan Tegal. Tujuan PG Pangka melakukan tradisi Manten Tebu sebagai bentuk keraifan lokal yang harus dilestarikan, karena tradisi ini sudah dilakukan oleh masyarakat saat Belanda berada di Tegal, serta bentuk mengeratkan seluruh komponen masyarakat Tegal. Hasil dari tradisi Manten Tebu ini dapat dilihat dari keuntungan masyarakat yang berjualan saat puncak acara Tradisi Manten Tebu ini.
Tujuan dan hasil dari tradisi Manten Tebu ini sangat berpengaruh bagi masyarakat, hal tersebut perlu adanya penelitian mengenai makna leksikal, makna kultural serta pola pikir masyarakat terhadap Tradisi Manten Tebu. Hal tersebut berfungsi sebagai penjagaan serta pelestarian kearifan lokal.
Penelitian ini, bertujuan untuk menjelaskan dan mendiskripsi makna leksikal dan gramatikal, makna kultural pada Tradisi Manten Tebu serta mengetahui pola pikir masyarakat terhadap Tradisi Manten Tebu di PG Pangka, Kabupaten Tegal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis sebagai penjagaan kearifan lokal dengan bentuk leksikal serta maknanya pada Tradisi Manten Tebu untuk masyarakat Tegal bahkan pada sivitas akademika. Selain manfaat yang bersifat teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang bersifat praktis, yaitu sebagai informasi dan masukan empiris kepada masyarakat dan pemerintah yang memiliki tugas dan kewajiban dalam menjaga tradisi Manten Tebu sebagai tradisi yang memiliki manfaat dan berkah untuk masyarakat sekitar.

TINJAUAN PUSTAKA
Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Ari Agung Pramono dari judul skripsi “Makna Simbol Ritual Cembengan di Madukismo Kabupaten Bantul” (2009). Dari hasil penelitian ini adalah Ritual Cembengan merupakan salah satu ritual yang dilakukan oleh pabrik-pabrik gula yang akan  melaksanakan proses awal dari masuknya mesin giling.  Simbol-simbol dalam ritual Cembengan terdapat pesan atau wejangan yang ditujukan kepada kelancaran jalannya proses giling tebu, sehingga makna dari berbagai simbol yang digunakan merupakan manisfestasi dari rasa syukur yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Simbol-simbol tersebut memberikan pengaruh positif yang signifikan dalam kehidupan mereka, baik secara psikologis, sosial kemasyarakatan, maupun secara keagamaan, sehingga menjadikan mereka selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam hidupnya, baik dalam lingkungannya secara horisontal dnegan manusia dan mahkluk lainnya.
Penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Ari Agung Pramono sama-sama mengkaji makna serta penggunaan nama pada proses memanen tebu dan siap untuk digiling oleh Pabrik Gula. Penggunaan nama pada penelitian sebelumnya, menggunakan Cembengan dan pada penelitian ini menggunakan Manten Tebu.
Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Ari Agung Pramono, jika penelitian sebelumnya hanya mengkaji makna simbol dari Ritual Cembengan, namun penelitian ini akan meneliti makna leksikal, makna kultural dan pola pikir masyarakat terhadap Tradisi Manten Tebu.
ATURAN NULIS ANGKA ING AKSARA JAWA
Awujud angka jawa :
















Amarga awujud angka iki ana ing aksara jawa, eben ora bingung menawi nulis kudu dipisah saka tanda ing pngkat ()
ATURAN NULIS AKSARA SWARA
            1.      AKSARA SWARA
a.       Huruf swara ana 5 macem, yaiku :





 b.       Huruf swara kang digunakna kanggo nulis huruf vokal kang dadi suku kata, utamane kang saka basa asing, iki gunane mung nganggo negesna lafale.

Tuladha:
Tegese Narima ing pandum
            Tegese nampa kanthi lila legawa apa lan sepira kang wus diparingake. Unen-unen iki mujudake salah sijine paribasan kang dadi ciri utawa tandha tumrap kabudayan jawa. Saklebatan nrima ing pandum katon kayadene patrap kang pasrah, nanging sejatine ora. Narima ing pandum tuwuh saka nalar kang bening, kawicaksanan kang dhuwur. Jalaran murih bisane ngecakake narima ing pandum iku lelakune ora gampang.

              1.      Pangerten ngenani narima ing pandum ora bisa dideleng saka saperangan wae. Awit dhasare nglakoni unen-unen iki kudu wis duwe ati lan pikiran nrima. Pikiran ngangsa, mangas, prasasat mung kari saelas. Kejaba saka iku uga duwe kapitayan kukuh, menawa rejeki manungsa iku dhewe-dhewe. Ora nate padha lan ora ana sing padha. Apa wae kang ditampa, embuh wujud apa, aithik akeh methi ana mumpangate. Ora ana barang kang muspra ing donya iki. Upama jatahe dielongi banjur diwenehake uwong liya, ya wis ben. Sing dosa sing ngelongi, sing ditambahi ora salah. Mula dheweke ora prelu disengiti, apa maneh digethingi. Nkanthi ngamalake temenan maknane unen-unen iki, manungsa bakal nemoni katemtremaning urip ing alam donya. Jalaran sapa wae kang menehi sejatine mung dadi lantaran. Kabeh saka Gusti Allah, mung panjenengane uga sing priksa lan ngerti dhodhok selehe kang sejati, ngapa sing ditampa awake dhewe semen, ngapa sing ditampa dhewe semana.
Tegese Ana Dina Ana Upa, Ora Obah Ora Mamah
            Tegese yaiku angger gelem nyambut gawe apa wae kanthi tumemen saben dinane, wis mesthi bakal antuk pangan (rejeki). Ing tanah Jawa dhek semana, paribasan iki prasasat dadi jimate wong cilik ongkak-angkik, pidak pedarakan, sing uripe tansah kecingkrangan. Saben dina kaya mung nunggu tetesing grimis ing mangsa ketiga. Mangkono mau jalaran urip ora duwe gaman babar pisan, kejaba tangan lan sikil. Mula, anggone golek pangupajiwa , piyandele iya mung tenaga. Kasar alus ditandangi, sing baku antuk berkah, bali ngomah ana sing diliwet.
                 1.      Ana dina ana upa mujudake keyakinan utawa kapitayan menawa rejeki iku wis diatur dening Gusti Kang Maha Murah. Tegese, saben dina kita mesthi diparingi, disedhiyani, lan sangkan paran asale. Dene werdine ora obah ora mamah mujudake pepeling rejeki paringane Gusti Allah ora mung gumlethek, kari nyandhak utawa nyawuk. Nanging kabeh mau kudu disranani kanthi obahing awak lan mubenge pikir. Gampange rembug yaiku wong iku kudu nyambut gawe.

                 2.      Wong cilik, sugih miskin, kabeh diparingi rejeki dening Gusti Allah. Nanging, rejeki mau kudu digoleki, ing ngendi papane rejeki, kepriye ngertine, kepriye iguh pertikele, lan sateruse. Tanpa gelem mbudidaya, apa maneh tumrap wong cilik sing kepetung sekeng, bisa wae yen lagi apes sing jeneng upa saelas bisa ora kesasaban nganti pirang-pirang dina.
Tegese Ajining Dhiri Dumunung ing Lathi, Ajining Raga saka Busana
            Ajining dhiri dumunung ing lathi tegese kapribadening manungsa ditemtoake dening lambene dhewe-dhewe. Dene jlentrehe, digugu lan orane manungsa iku gumantung saka rembuge. Beda karo ajining dhiri, ajining raga manungsa banget ditemtoake dening busana (penganggone).
            1.      Paribasan iki mujudake pepeling supaya ngati-ati anggone padha ngucap celathu. Awit tembung saklimah rong klimah sing metu saka lesan (thuthuk) bakal dirungokake liyan. Mula sadhengah pocapan kudu diarah-arah, dijaga, lan diugemi temenan. Tuladhane, yen kulina mencla-mencle, suwening-suwe kapitayaning liyan bakal ilang. Yen omongane atos, nylekit, tundhone angel nyupeketake kekancan (paseduluran) awit wong-wong bakal nduweni penganggep menawa kang kawongan seneng nglarani atine liyan.
             2.      Beda karo tembung pocapan sing gedhe pengaruhe tumrap ajining dhiri (kapribaden), ajining raga banget gumantung saka penganggo utawa busana. Dadi, sing jeneng busana sidane ora mung saderma kanggo nutupi ngurat (aurat), nanging uga menehi rega tumrap sing nganggo. Tuladhane: nekani pahargyan panganten yen mung sandalan lan nyandhang pengannggo pedinan, mesthi dibatin wong akeh. Kaya-kaya ora ngurmati sing duwe omah, ora peduli menyang tamu-tamu liyane. Mula ora maido yen meneng-meneng tamu kiwa tengen padha ngrasani.
Tegese Aja Rumangsa Bisa, nanging Bisaa Rumangsa
            Tegese yaiku aja seneng rumangsa bisa yen durung rumangsa bisa, nanging bisaa ngrumangsani yen durung bisa. Rumangsa bisa mujudake watak sing dianggep kurang prayoga. Kena apa mangkono, jalaran sing diarani bisa ing paribasan iki mung saka rumangsane. Rumangsane wae bisa, nanging kepriye nyatane, bisa tenan apa ora, embuh ora weruh. Mula aja duweni sipat kaya ngono. Coba yen nganti dijajal tenan, dipasrahi gaweyan sing jarene bisa mau. Yen asile ora samurwat apa ora ngisin-isini? Jare bisa, kok nyatane asile ora pakra, adoh sungsate karo anggone omong tekan ngendi-endi. Dene sing dikarepake bisaa rumangsa, tegese bisa ngrumangsani. Kayata, wani ngrumangsani yen ora bisa.
                1.      Paribasan iki seprene isih kerap digunakake lan uga mujudake pitutur adiluhung kang pantes diuri-uri. Jalaran sejati akeh wong Jawa iku kang isinan. Isin ngaku yen ora bisa, isin diarani bodho, wirang yen nganti dicap kapinterane luwih asor tinimbang wong liya.

            2.      Bisa ngrumangsani ateges duwe rasarumangsa kangjero, saengga kena kanggo srana mbangun semangat kamanungsan, njaga atine liyan murih ayem tentrem anggone urip bebrayan lan kekadangan ana ing masyarakat.
Tegese Adigang, Adigung, Adiguna
            Tegese yaiku sipat ngendel-endelake kekuwatan, panguwasa, lan kapinteran sing didarbeki. Adigan yaiku sipat kang ngegul-gulake kekuwataning awak (raga), kayadene kidang. Tandang tanduke cukat, trengginas, playune pilih tandhing. Dene adigung iku sipat kang ngongasake pangkat, drajat, kaluhuran, apadene trha tedhak turune priyagung (wong gedhe). Pawongan kang nduweni watak adigung umume dipadhakake karo gajah. Awake gedhe, ora ana sing madhani, lan yen padudon akeh menange. Dene adiguna yaiku ipat ngandelake kapinteran lan akal. Sipat iki umume digambarake kaya watak wantune ula. Ula iku katone ringkih, nanging wisane mbebayani.
           1.      Ancas tujuwane paribasan iki ngelingake supaya manungsa ngedohi watak adigang, adigung, adiguna, jalaran watak mau bisa nuwuhake angkara murka lan marakake lali marang sapadha-padha, saengga tumindake sering nglarakake atine liyan. Manawa wong iku duwe kaluwihan aja banget-banget diendel-endelake. Awit kasunyatane, kidang sing kawentar playune iku uga bisa ditubruk macan lan sidane mung dadi mangsane raja wana mau. Nate didongengake uga, kepriye gajah kalah dening semut. Ula weling utawa kobra sing wisane ngegirisi iku uga bakal mati lemes yen disabet nganggo carang pring ori.

             2.      Pribasan iki uga menehi pepeling menawa kaluwihaning manungsa bisa “migunani” uga “mbebayani”. Migunani angger digunakake kanggo kabecikan lan kamunangsan, mebayani yen mung kanggo nguja hawa nepsu.
Tegesipun aja dumeh
            Tegese yaiku aja kumalungkung, mamerake lan migunakake apa kang didarbeki kanggo nguja hawa nepsu, apadene ngina, ngremehake, lan nyepelekake liyan. Kayata, aja dumeh pinter lan dadi pemimpin, banjur ora gelem srawung marang sapadha-padha. Aja dumeh sugih banjur nggunakake kesugihan kanggo nguwasani panguripane wong-wong sing kecringkangan (mlarat). Kena apa patrap mau dianggep kurang prayoga ? awit sing jeneng bandha donya iku ora lestari, yen Gusti Kang Maha Kuwasa ngersakake, ilang apa tambah ora kurang dalane.
               1.      Ana kapitayan menawa samubarang kang didarbeki manungsa iku mung titipaning Gusti Kang Maha Kuwasa. Mula sipate ora langgeng. Tanpa dikeparengake dening Gusti Kang Akarya Jagad, awake dhewe ora bakal kanggonan. Kejaba saka iku, miturut kasunyatane, entuke bandha donya mau uga jalaran pambiyantune wong liya. Ngendi ana sudagar sugih yen ora laku dagng karo masyarakate? Ora dibatheni dening sing tuku
              2.      Paribasan iki uga ngelingake aja nganti kita nduweni sipat kaya mangkono. Bareng sugih banjur ora gelem sedekah marang wong miskin. Dumeh dadi pemimpin banjur ora gelem melu gotong royong. Dumeh dadi profesor banjur ora nggubris sanak kadang sing pamulangane luwih endhek. Miturut wong Jawa, watak kaya ing ndhuwur prayogane didohi. Awit, sapa wae kang duwe sipat kaya mangkono bakal disirik liyan.
ATURAN NULIS PANAMBANG –ana lan –e/ipun ING AKSARA JAWA
       1.      Panambang –ana 









Tuladha:

b.     Menawi suku kata pungkasan kebukak kaliyan sandhangan wulu, wulune obah dados taling.
Wayah Esuk Pedut Angendanu
Rong puluh tahun kepungkur aku lan sliramu nate mlaku ana dalan kene
Saklawase ora nate ketemu
Saliramu lan saliraku wus beda ora kaya biyen nalika isih tak kanthi
Gandaning wengi mau isih sumrebak ngebaki pedut wayah esuk

Wus aja mbok tangisi lakon kang wus kapungkur
Wus pirang wayah ketiga tak lakoni nganti rambut warna ireng lan putih
ing dalan iki rong puluh tahun kepungkur
ana cerita rinajut endah

Dik, kala kala sliramu isih dadi impenku
Pirsanana ana nduwur kae
ana teja manther ing sela-selaning gegodongan
Lan lintang panjer wengi sing isih kari sakmenir gedhene

Saiki aku lan sliramu linambaran rasa kangen
Simpenen kangenmu ana impen
Ron Garing
Wengi sansaya atis
Nalika aku sesingidan ing sajroning swara gamelan
Kang digawa dening angin

Prasasat tan kendhat
anggonku kulak warta adol prungu
ananging isih mamring

aku wis pingin cecaketan
Obormu kang makantar-kantar
Madhangi jangkah lan jagatku

ana ngendi papanmu
Lelana tapa brata
Tanpa pawarta tanpa swara

aku kadya ron garing
Kumleyang kabur kanginan
ing jagat peteng lelimengan

Krasa luwih abot
anggonku ngadhepi dina-dina ing ngarep
Mlakuku ora mantep

Kagubet ribet lan ruwet
adoh saka cahyamu
Ppedhut ing sakindering pandulu

Panjenengan
Guruku, sihku, oborku
Kancanana sukmaku sinau bab katresnan sajroning ati.
Udan Wayah Sore
udan riwis-riwis nggawa angin gumanti
ora kaya nalika kang kawuri sing kebak pangarep-arep
dikaya ngapa lemah wus kebanjur teles

Sesuk esuk yen sang surya wiwit sumunar
Lan manuk kepodang colat-colot ana wit gedang
Tak tunggu tekamu ing sak ngisore payung
Tak kanthi lakumu tumeka ngendi

Mbokmenawa sesuk sore wus ora udan riwis-riwis
Marakake gawe kekesing ati
Manuk kepodang wus mabur mangulon
Nanging tetep tak tunggu tekamu
Pedang Bakal Tumeka
angrantu sinambi jumangkah ing dalan kang peteng kebak sandungan
Mecaki lurung lurung kang dawa satengahing ara-ara samun
Bumi kang kapidak kebak sinengker
anggawa ganda bacin
Manuk manuk dhandhang kekitrang wayah sor
Peteng kang gemuleng ing angganing manungsa

Wus sinerat ana ing kitab duk ing uni
Pepadang bakal tumeka anggawa kabar bebungah
Kanggo kita sami jalma manungsa
Kang bakal amadhangi lurung-lurung, dalan-dalan lan ara-ara samun
amadhangi sakendhenging jagat raya
Mara gage kita sami tumenga ing angkasa
Mangayubagya rawuhipun sang pepadhang
Kanthi mesu raga nutup babahan nawa sanga
Mmangestu nampi pepadhang



ATURAN NULIS AKHIRAN (-AN) LAN (-EN) ING AKSARA JAWA
       1.      Akhiran –an





Tuladha :







                Tuladha :
ATURAN NULIS PANAMBANG –A LAN –I aksara jawa
      1.     PANAMBANG –a

a. Menawi dipungabung kaliyan tembung ingkang pungkasan huruf legena, nyeratipun kados biyasa.
Tuladha :

 Tuladha :